{cursor: url("http://downloads.totallyfreecursors.com/cursor_files/ilovemymom.ani"), CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Minggu, 29 Maret 2009

KaryaQw..



Karya ESAIkuh...

ENERGI ANGIN (WIND POWER)

SEBAGAI SUMBER ENERGI MASA DEPAN


Sebagian besar energi yang digunakan di Indonesia berasal dari energi fosil yang berbentuk minyak bumi dan gas bumi. Energi merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Misalnya untuk penerangan, proses industri atau untuk menggerakkan peralatan rumah tangga diperlukan energi listrik, serta masih banyak peralatan di sekitar kehidupan manusia yang memerlukan energi.

Persoalan ini dimulai pada persediaan energi dari fosil yang sangat terbatas dan diperkirakan akan semakin menipis seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk industri maupun transportasi. Dan juga proses pembentukan minyak bumi membutuhkan waktu berjuta-juta tahun, hal ini membuatnya tidak mungkin diperbaharui. Bayangkan apabila semua sumber bahan bakar fosil benar-benar habis dan sumber energi alternatif tidak segera ditemukan. Maka akan menimbulkan kekacauan bagi kestabilan seluruh kegiatan masyarakat. Dan pada saat krisis itu terjadi, perang untuk memperebutkan sumber energi yang tersisa, walaupun sumber energi yang tersisa sangatlah kecil, akan menjadi sesuatu yang logis.

Berpaling ke laut barangkali adalah bahasa yang tepat dalam kondisi krisis energi saat ini. Mengapa demikian? Indonesia negara kepulauan yang terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 km dengan luas yang mencapai 5,8 juta km2 tentunya mempunyai potensi yang sangat besar. Yakni menyimpan potensi hayati dan juga menyimpan potensi nir-hayati (fisik) yang sangat besar. Kekayaan nir-hayati ini diantaranya menghasilkan Energi Ombak (Wave Energy), Energi Pasang Surut (Tidal Energy), Hasil Konversi Energi Panas Laut (Ocean Thermal Energy Conversion), Energi Angin (Wind Power).

Namun yang menarik bagi saya adalah energi angin, hal ini menyangkut beberapa alasan:
1. Energi angin tersedia di alam bebas terus menerus dan tidak akan habis
2. Energi angin bisa diperoleh secara gratis
3. Energi angin merupakan energi yang bersih tidak berpolusi
4. Energi angin tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2) atau gas-gas lain yang berperan dalam pemanasan global, sulphur dioksida dan nitrogen oksida (jenis gas yang menyebabkan hujan asam)
5. Energi angin tidak menghasilkan limbah
6. Energi angin tidak membutuhkan bahan bakar
7. Energi angin mudah dioperasikan dan biaya perawatan rendah
8. Energi angin dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai
9. Energi angin dapat memproduksi listrik dengan stabil

Energi angin sebagai sumber alternatife pembangkit listrik memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan sumber energi lainnya, dan merupakan sumber energi yang tak ada habisnya sehingga pemanfaatan energi angin akan berdampak positif terhadap makhluk hidup.
Energi angin merupakan sumber di setiap negara yang ada di dunia. Hal ini memberikan beberapa nilai tambah, seperti terhindarnya dari biaya bahan bakar, tidak ada resiko fluktuasi harga bahan bakar dalam jangka panjang, dan pemanfaatan energi angin laut dapat menghindarkan resiko ekonomi dan supply yang bisa berpengaruh pada bahan bakar impor dan ketergantungan politik pada negara-negara lain. Di samping itu memanfaatkan angin laut sebagai energi juga memiliki pesona tersendiri dan menjadi atraksi wisata yang menarik, seperti kincir-kincir angin di negeri Belanda.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan AWEA (American Wind Energy Association) juga memperlihatkan bahwa turbin angin sangat efektif untuk mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2), gas utama penyebab efek rumah kaca. Turbin angin tunggal dengan daya 750 kW (kilo Watt), bentuk turbin yang banyak dipasang di tempat penghasil sumber tenaga angin diseluruh dunia, menghasilkan kira-kira 2 juta kWh (kilo Watt hour) daya listrik dalam setahun. Berdasar ukuran rata-rata campuran bahan bakar di Amerika Serikat, kira-kira dari setiap kWh yang digunakan akan menghasilkan 1,5 pon CO2. Ini berarti setiap turbin angin biasa akan mencegah emisi sebesar 2 juta kWh x 1,5 pon CO2/kWh =3 juta pon CO2 atau 1,5 ton CO2 pertahun.
Penggunaan dan pemanfaatan energi angin sebagai energi alternatif tidak memberikan efek kepada lingkungan tetapi justru memperkecil terjadinya kerusakan pada lingkungan. Sungguh ironis, disaat Indonesia menjadi tuan rumah konfrensi dunia mengenai pemanasan global di Nusa Dua, Bali pada akhir tahun 2007, pemerintah justru akan membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang merupakan penyebab nomor 1 pemanasan global.

Potensi energi angin untuk kebutuhan energi masa depan sangat menjanjikan. Ketika Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik (PLTS Fotovoltaik) tidak mendapatkan sinar matahari maka pasokan listrik akan terhambat, sedangkan kincir angin relatif stabil pada semua cuaca karena tidak membutuhkan sinar matahari untuk menghasilkan energi. Hal itu membuat kincir angin unggul satu langkah di depan sel fotovoltaik dalam menghasilkan energi.
Pembangkit Listrik Tenaga Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Turbin angin dapat memiliki tiga buah bilah turbin. Jenis lain yang umum adalah jenis turbin dua bilah.

Lalu bagaimana turbin angin menghasilkan listrik? Turbin angin bekerja sebagai kebalikan dari kipas angin. Jika kipas angin menggunakan listrik untuk membuat angin, maka turbin angin menggunakan angin untuk membuat listrik. Langkahnya adalah angin akan memutar sudut turbin diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik.
Dalam perkembangannya, turbin angin dibagi menjadi jenis turbin angin propeler dan turbin angin Darrieus. Kedua jenis turbin inilah yang kini memperoleh perhatian besar untuk dikembangkan.

Turbin angin propeler adalah jenis turbin angin dengan poros horizontal seperti baling-baling pesawat terbang pada umumnya. Turbin angin ini harus diarahkan sesuai dengan arah angin yang paling tinggi kecepatannya.
Kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer. Anemometer jenis mangkok adalah yang paling banyak digunakan. Anemometer mangkok mempunyai sumbu vertikal dan tiga buah mangkok yang berfungsi menangkap angin. Jumlah putaran per menit dari poros anemometer dihitung secara elektronik. Biasanya, anemometer dilengkapi dengan sudut angin untuk mendeteksi arah angin.

Turbin angin Darrieus merupakan suatu sistem konversi energi angin yang digolongkan dalam jenis turbin angin berporos tegak Keuntungan dari turbin angin jenis Darrieus adalah tidak memerlukan mekanisme orientasi pada arah angin (tidak perlu mendeteksi arah angin yang paling tinggi kecepatannya) seperti pada turbin angin propeler.

Ini adalah potensi laut kita. menyimpan kekayaan energi yang luar biasa dan tidak akan pernah punah. Tinggal bagaimana kita mau memulai memanfaatkan potensi energi kelautan tersebut.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu memanfaatkan sumber-sumber energinya dengan sebaik mungkin. Energi itu adalah nadi dan denyut perekonomian suatu bangsa. Jika energinya mati, maka mati pula ekonomi suatu bangsa begitupun sebaliknya jika energinya hidup, maka ekonomi suatu bangsa akan maju dan berkembang dengan baik.
Oleh karena itu, saya harapkan dari tulisan ini dapat menggugah kita semua. Kita harus peduli dengan laut kita. Jangan biarkan laut hanya menjadi pajangan. Kita jangan terjebak dalam kenyamanan diri bahwa kita berada pada suatu negara yang kaya raya dengan sumber alam berlimpah. Apalah arti semua itu jika kita tidak mampu memanfaatkan dan menjaga apa yang kita miliki. Saya berharap menjadikan energi angin sebagai sebuah alternatif energi berkelanjutan dan terbarukan diharapkan mampu menjadi solusi dengan adanya krisis energi di Indonesia.






 
LAUTKU SUMBER ENERGI RAKSASA


Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudra
Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai

Itu adalah secuplik lagu dari Ibu Sud. Konon menurut sebuah lagu, nenek moyang kita berprofesi sebagai pelaut. Mereka menyadari bahwa Indonesia merupakan kepulauan yang terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 km dengan luas mencapai 5,8 juta km2 memiliki potensi yang besar, yaitu ikan, tanaman laut, dan masih banyak lagi. Kini kita pun mengetahui bahwa laut mengandung potensi sebagai sumber energi terbarukan yakni energi:
1. Hasil konversi energi panas laut (Ocean Themal Energy Conversion atau OTEC)
2. Energi pasang surut (Tidal Energy)
3. Energi ombak (Wave Energy)
4. Energi angin (Wind Energy)
Lebih dari 70% bagian permukaan Bumi adalah lautan, hal ini menjadikan lautan sebagai pengumpul sinar matahari terbesar di bumi. Matahari menghangatkan permukaan air lebih banyak daripada di bagian laut yang lebih dalam. Dan perbedaan temperatur ini menyimpan energi panas/termal. Pemanfaatan sumber energi jenis ini disebut dengan konversi energi panas laut (Ocean Themal Energy Conversion atau OTEC). Perbedaan temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang dingin dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25 °C) agar dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan baik.
Energi termal ini dapat digunakan dalam banyak hal, termasuk sebagai pembangkit tenaga listrik. Ada tiga tipe sistem konversi yang biasa digunakan dalam pemanfaatan energi termal yaitu siklus tertutup, siklus terbuka dan hibrid.
Siklus tertutup memanfaatkan hangatnya permukaan air laut untuk menguapkan fluida kerja yang memiliki titik didih yang rendah seperti amoniak. Uap selanjutnya mengembang dan menggerakkan turbin. Selanjutnya turbin mengaktifkan generator untuk menghasilkan energi listrik. Sementara itu sistem siklus terbuka bekerja dengan cara mendidihkan air laut pada tekanan rendah yang menghasilkan uap yang berfungsi menggerakkan turbin atau generator. Sedangkan sistem hibrid adalah kombinasi dari sistem siklus tertutup dan terbuka.

Energi terbarukan selanjutnya yaitu energi pasang surut (Tidal Energy). Energi pasang surut memanfaatkan pergerakan air laut dalam jumlah besar (pasang surut). Seperti yang kita ketahui pasang terjadi dua kali sehari, diperkirakan sekitar 12,5 jam sekali. Karena siklusnya bisa diprediksi, maka sangat mudah untuk memanfaatkan energi pasang surut ini.
Prinsip kerja energi pasang surut sama dengan pembangkit listrik tenaga air. Saat pasang datang, air laut masuk melewati dam melalui katup yang bisa membuka secara otomatis. Saat pasang surut, katup yang ada di dam tertutup sehingga air laut terjebak didalam dam. Air laut yang terjebak inilah yang dimanfaatkan untuk memutar turbin dan mengahasilkan energi listrik.
Energi tidal atau energi pasang surut memiliki sejumlah keunggulan yaitu memiliki aliran energi yang lebih pasti/mudah diprediksi, lebih hemat ruang dan tidak membutuhkan teknologi konversi yang rumit.

Pemanfaatan energi yang ketiga adalah energi ombak (Wave Energy) yang merupakan energi mekanik dari laut. Ombak dihasilkan oleh angin yang bertiup di permukaan laut. Ombak merupakan gerakan air laut yang turun naik atau bergulung-gulung. Sesungguhnya ombak merupakan sumber energi yang cukup besar. Salah satu metode yang efektif untuk memanfaatkan energi ombak adalah dengan membalik cara kerja alat pembuat ombak yang biasa terdapat di kolam renang. Pada kolam renang dengan ombak buatan, udara ditiupkan keluar masuk sebuah ruang di tepi kolam yang mendorong air sehingga bergoyang naik turun menjadi ombak. Pada sebuah pembangkit listrik bertenaga ombak (PLTO), aliran masuk dan keluarnya ombak ke dalam ruangan khusus menyebabkan terdorongnya udara keluar dan masuk melalui sebuah saluran di atas ruang tersebut. Jika di ujung saluran diletakkan sebuah turbin, maka aliran udara yang keluar masuk tersebut akan memutar turbin yang menggerakkan generator.

Setelah selesai dibangun, energi ombak dapat diperoleh secara gratis, tidak butuh bahan bakar, dan tidak pula menghasilkan limbah ataupun polusi. Namun tantangannya adalah bagaimana membangun alat yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca buruk di laut yang terkadang sangat ganas.
Yang keempat yaitu menggunakan energi angin (Wind Energi) sebagai energi listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Cara kerjanya cukup sederhana, energi angin yang memutar turbin angin, diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik.

Turbin angin dapat memiliki tiga buah bilah turbin. Jenis lain yang umum adalah jenis turbin dua bilah. Lalu bagaimana turbin angin menghasilkan listrik? Turbin angin bekerja sebagai kebalikan dari kipas angin. Jika kipas angin menggunakan listrik untuk membuat angin, maka turbin angin menggunakan angin untuk membuat listrik.
Angin akan memutar sudut turbin, kemudian memutar sebuah poros yang dihubungkan dengan generator, lalu menghasilkan listrik.

Secara ringkas menggunakan potensi laut sebagai sumber energi terbarukan memiliki beberapa kenggulan yaitu energi bisa diperoleh secara gratis, tidak membutuhkan bahan bakar, produksi listrik stabil, dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai.
Kita tidak cukup hanya mengandalkan cadangan energi fosil sedangkan cadangan energi fosil kita terbatas. Kita harus menyadari bahwa pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan utamanya dari energi laut merupakan kebutuhan bahkan suatu keharusan. Jika itu disadari bangsa ini bisa perlahan-lahan melepas ketergantungannya dari sumber energi fosil khususnya minyak bumi. Yang terbukti karena pemanfaatan minyak bumi selama ini, indonesia menjadi salah satu penghasil gas karbon dioksida terkemuka di Asia.

Arti dari semua itu adalah kita memiliki sumber energi potensial yang sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya kita tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi. Persoalannya tinggal bagaimana kita memanfaatkan dan mengelola potensi ini.
Jika kita memulainya sekarang, yakni dengan mewujudkan penyediaan energi alternatif niscaya dimasa mendatang kita tidak akan mengalami ketergantungan energi lagi dengan negara lain.